Sunday, 27 March 2016

PESAN MENDIKBUD MENGAKHIRI SAMBUTAN DALAM ACARA PENUTUPAN REMBUKNAS

Selamat Datang pengunjung semuanya,
Kegiatan Rembuk Nasional (Rembuknas) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dengan tema “Meningkatkan Pelibatan Publik dalam Membangun Ekosistem Pendidikan dan Kebudayaan di Pusat dan Daerah” resmi dibuka. Pembukaan tersebut dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan di Pusat Diklat Kepegawaian Kemendikbud RI, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Minggu (21/2). Hadir pula dalam acara tersebut Sekretaris Direktorat Jenderal Kemdikbud, Didik Suhardi, Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, Deputi Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono, jajaran pejabat Eselon I – IV di lingkungan Kemdikbud, serta peserta Rembuknas dari berbagai dinas terkait di lingkungan Kemdikbud di seluruh Indonesia.
Mengakhiri acara Rembuknas tersebut Menteri Pendidikan Kebudayaan Menyampaikan pesan terkait pelaksanaan Ujian Nasional sebagai berikut;
Mendikbud-Anies Baswedan membuat kebijakan baru dengan menghilangkan fungsi Ujian Nasional (UN) sebagai penentu kelulusan dari satuan pendidikan. Kebijakan ini diberlakukan pada pelaksanaan UN tahun 2015. Meskipun UN tidak lagi menentukan kelulusan, praktik kecurangan dalam UN juga belum hilang. Apa yang salah dengan pelaksanaan UN? Bisakah kecurangan diukur? dan Bagaimana mengukur kecurangan dalam UN?.
Menurut Anies kejujuran itu sulit diukur, yang bisa diukur adalah tingkat kecurangan berdasarkan pola jawaban yang salah.
Anies juga menyayangkan tingkat kecurangan yang masih tinggi dalam pelaksanaan UN, meskipun UN tidak lagi menentukan kelulusan.
“Potret rendahnya integritas ini jika tidak kita intervensi, kita memiliki dosa dalam menentukan wajah masa depan bangsa Indonesia.
Lebih lanjut Anies meminta kepada peserta Rembuk Nasional untuk menyampaikan pesan kepada pemangku kepentingan pendidikan di wilayah masing-masing. Pesan yang perlu disampaikan adalah: “Hentikan praktik contek menyontek dalam UN” Untuk meningkatkan Indeks Integritas Ujian Nasional (IIUN) tidak perlu kerja keras, cukup satu perintah, jangan menyontek, jangan bagikan kunci jawaban yang tidak jelas.
Dulu masyarakat melaporkan kecurangan kepada Kementerian. Sekarang negara yang mengumumkan terjadinya kecurangan melalui tingkat IIUN.
Sebagai bentuk apresiasi bagi satuan pendidikan yang mencapai indeks integritas tinggi, Kementerian akan memberikan piagam penghargaan kepada 11.700 sekolah di kwadran satu dan dua. Piagam penghargaan untuk dipasang di sekolah, untuk menumbuhkan rasa bangga kepada siswa. Sekolah yang tidak menerima piagam, berarti ada masalah. Penyerahan piagam dilakukan melalui upacara penyerahan piagam dari Bupati kepada kepala sekolah.
“Mari kita kembalikan tradisi jujur di sekolah. Karena sekolah kita memiliki tradisi jujur”, pesan Anies mengakhiri sambutan dalam acara penutupan Rembuknas (23/2/2016)  (info sumber: http://bsnp-indonesia.org/)