Wednesday, 23 March 2016

Pelatihan Instruktur Kurikulum Dilakukan Secara Berjenjang

selamat datang pengunjung semuanya,,
Pelatihan kurikulum 2013 dilakukan secara berjenjang. Dimulai dari pelatihan bagi Instruktur Nasional (IN) oleh Narasumber Nasional (NN), Instruktur Provinsi, Instruktur Kabupaten/Kota, hingga satuan pendidikan. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Hamid Muhammad saat mendampingi Mendikbud Anies Baswedan dalam konferensi pers usai pelantikan NN di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemendikbud di Sawangan, Depok, Jawa Barat, Ahad pagi, 20 Maret 2016.
Menurut Hamid, jumlah IN yang akan mengikuti pelatihan berjumlah 761 orang. Jumlah tersebut belum termasuk IN untuk Sekolah Luar Biasa sebanyak 177 orang. Pelatihan IN untuk SLB akan digelar pada Mei mendatang. (lihat Jumlah NN dan IN)
“Sekarang yang dilatih calon IN untuk SD, SMP, SMA, dan SMK. Pada minggu ke-2 sampai ke-4 April, ada pelatihan Instruktur Provinsi. Jumlahnya sekitar 3.600 orang,” ungkapnya.
Instruktur Provinsi akan melatih Instruktur Kabupaten/Kota sejumlah 66.000 orang. Kemudian dilanjutkan pelatihan di tingkat sekolah dengan melibatkan 285.000 guru dan kepala sekolah. Itu kita targetkan selesai akhir Juli,” ujar Hamid.
Sementara Totok Suprayitno, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, mengatakan kurikulum yang digunakan dalam pelatihan tetap Kurikulum 2013. Namun kurikulum tersebut telah direvisi dan diperbaiki. Revisi terkait tiga hal. Pertama, koherensi Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) dan penyelarasan dokumen antara KI, KD, silabus, dan buku-bukunya.
“Kedua, kita menyederhanakan proses penilaian,” ujar Totok. Hal tersebut dilakukan karena selama ini terjadi kompleksitas penilaian yang luar biasa akibat adanya sikap spiritual dan sosial yang dinilaikan di semua pelajaran.
Ketiga, perubahan proses berpikir peserta didik. Jika sebelumnya proses berpikir siswa SD dibatasi hingga proses memahami, siswa SMP hingga fase menganalisis, dan siswa SMA sampai fase mencipta, maka kini pemenggalan proses berpikir itu tak lagi dilakukan. “Anak SD pun boleh mencipta,” tegasnya. (sumber: http://dikdas.kemdikbud.go.id/)
Semoga kegiatan ini berjalan dengan lancar seperti yang diharpkan