Sunday, 6 September 2015

Pelajaran Sejarah Dapat Membangun Karakter Positif dalam membangun bangsa

Pelajaran Sejarah Dapat Membangun Karaker PositifMempelajari sejarah bangsa dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya dapat membangun karakter positif bagi anak-anak kita. berikut penjelasannya
Sekretaris Jenderal Gerakan Indonesia Pintar (GIP) Alpha Amirrachman menekankan pentingnya membangun karakter peserta didik dari mempelajari sejarah perjuangan bangsa terutama semangat patriotisme.
“Indonesia memiliki semangat patriotisme yang kental karena kita merebut kemerdekaan dengan darah dan air mata. Kemerdekaan kita bukan hasil pemberian. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara yang mendapatkan kemerdekaan sebagai hadiah, rasa patriotisme kita jauh lebih kental,” ujarnya pada talkshow saat peluncuran eksiklopedia Lintas Sejarah Indonesia dalam Literasi Visual penerbit Binar di International Book Fair di Jakarta (2/9).
“Tantangannya sekarang adalah bagaimana menguraikan semangat patriotisme itu menjadi nilai-nilai yang memiliki karakter yang positif dalam membangun bangsa,” ujarnya.
Sementara Staf Ahli Kementerian Sosial Harry Hikmat menekankan bahwa nilai-nilai yang harus dibangun adalah nilai kejujuran, integritas dan kesetiakawanan sosial.
“Kita lihat masih banyak kasus-kasus korupsi, artinya nilai-nilai kejujuran masih belum terbentuk. Kita berharap nilai-nilai ini dapat terbangun melalui pembelajaran sejarah perjuangan bangsa dalam literasi visual ini,” ujarnya seraya memuji literasi visual ensiklopedia tersebut yang menurutnya tampak hidup dan menarik.
CEO Penerbit Binar Yanti Sriyulianti mengatakan bahwa timnya membutuhkan belasan tahun untuk menghayati perjuangan para pahlawan dan menuangkannya dalam literasi visual.
Ensiklopedia ini terdiri dari tujuh jilid: Yang pertama Kebangkitan Kesadaran Berbangsa (1900-1942), Kebingkitan Pergerakan Kemerdekaan (1942-1966)_, Kebangkitan Pembangunan Nasional (1966-1998), Kebangkitan Kesadaran Demokrasi (1998-2004), Berprestasi di Pentas Global (2004-2-14), Penguatan Karakter bangsa (2014) dan Infografis (1908-2014).
“Ensiklopedia ini bukan hanya menyuguhkan literasi visual, tapi juga infografis untuk mengajak siswa berpikir kritis,” ujar Yanti yang juga Ketua GIP ini.
Sekjen GIP Alpha menambahkan bahwa perlu ada dua pendekatan untuk membangun karakter peserta didik melalui sejarah perjuangan bangsa.
“Yang pertama jalur formal yaitu di sekolah-sekolah dan yang kedua jalur informal yaitu menggerakkan komunitas-komunitas lokal untuk menikmati sejarah perjuangan bangsa sekaligus menggali nilai-nilai kepahlawanan dari lingkungan sekitar,” pungkas Alpha yang juga dosen Universitas Sultan Ageng Tirtayasa ini. (sumber: Trimbun.pendidikan.com)