Wednesday, 1 July 2015

Pendidikan Cegah Pengaruh Ekstrem Berkembang


Jakarta, Kemendikbud --- Pendidikan berperan besar untuk menghambat tumbuh kembang radikalisme. Melalui pendidikan, peserta didik diajarkan untuk berpikir kritis dan analitis sehingga tidak mudah termakan isu atau informasi yang berbau radikal atau ekstrem.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan, setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Jika rasa ingin tahu tersebut tidak mampu difasilitasi oleh orang tua dan guru maka anak akan mencari sumber lain untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Untuk itu, tidak hanya peserta didik, orang tua dan guru juga dituntut untuk kritis dan analitis.

“Bayangkan jika anak bertanya tapi orang tua dan guru tidak tahu jawabannya, mereka akan mencari tahu sendiri. Kalau tidak kritis, mereka tidak akan kroscek lagi informasi tersebut sehingga mereka telan mentah-mentah dan mudah dipengaruhi,” kata Mendikbud di kantor Kemendikbud, Jumat (26/06/2015).

Mendikbud menekankan, anak-anak harus diberi ruang untuk bertanya. Selain berpikir kritis mereka juga harus diajak analitis. Mencari sebab dan akibat yang masuk dalam akal. Dengan demikian, anak-anak dipacu untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan perluasan pengetahuan ditambah kritik dan analitik akan menumbuhkan empati.

“Karakter adil seorang anak harus bisa memunculkan sintesa yang menghasilkan win-win solution. Adil ditumbuhkan lewat pengetahuan,critical dan analitical thinking,” tuturnya.

Salah satu cara yang bisa digunakan untuk menumbuhkan karakter kritis dan analitis adalah dengan memperluas pengalaman berinteraksi. Mendikbud mengajak agar orang tua dan guru memberikan anak pengalaman berinteraksi dengan orang berbeda. Dengan interaksi, akan membuat anak saling mengenal perbedaan baik beda agama, suku, maupun beda etnis.



Sumber Link : http://www.kemdikbud.go.id//kemdikbud/berita/4334