Saturday, 4 July 2015

Jika Cinta Itu Berwarna Pink



Jika Cinta Itu Berwarna Pink
Sebuah Novel Mini Hasil Karya Rizal Kurniawan
Jariku masih berlari-lari di keyboard laptop hitamku dengan kepala serasa penuh. Dua buah tumpukan buku masih menunggu giliran untuk aku buka satu persatu. Terlihat jam di atas meja sana telah menunjukkan pukul satu malam. Satu gelas kapucino yang kuseduh beberapa jam yang lalu di dalam cangkir besar itu telah habis. Proposal skripsiku belum juga selesai. Beginilah nasibku sekarang, aku harus mati-matian mengejar wisuda tahun ini. Semua ini gara-gara James, benar sekali, dia biang kerok semua penderitaan ini. Tiga tahun yang lalu kami berjanji untuk sama-sama menamatkan S1 empat tahun lalu kami harus terbang ke Amerika untuk S2. Sejak perjanjian itu aku harus mati-matian mengejar nilai supaya tidak ada nilai yang gagal untuk di ulang. Sejak perjanjian itu pula, aku berubah menjadi seseorang yang perfksionis dan ambisius. Semua yang ku kerjakan harus sempurna dan semua pemikiranku harus aku wujudkan. Sial, perjanjian dengan mahasiswa kedokteran yang kuliah di Jakarta itu membuat hari-hariku melelahkan.

Dengan mata masih terasa mengantuk, aku memaksakan diri untuk bangun. Aku harus bertemu dengan dosen pembimbingku jam 8 hari ini. Sama sepertiku, dosenku lebih perfeksionis dariku. Sedikit saja ada yang salah di perbaikanku, aku harus megulangnya kembali. Tidak mengherankan bab landasan teori skripsiku telah ku perbaiki sepuluh kali, masih juga terdapat kesalahan. Kertas yang penuh coretan merahnyapun telah menggunung di kamarku, tapi aku tidak pernah putus asa, demi perjanjian aku dengan James, tahun depan kami harus tebang ke Amerika untuk S2.

Berangkat ke Amerika merupakan bukan suatu perkara gampang. Aku harus mempersiapkan proposal penelitian. Karena salah satu persyaratan untuk mendaftar di sana harus mempersiapkan proposal penelitian terlebih dahulu, jadi untuk skirpsiku sengaja aku ambil permasalahan yang kompleks, sehingga dapat dikembangkan langsung untuk proposal penelitianku di Amerika nanti. Selain itu yang masih menjadi permasalahan besar ada TOEFL, nilainya ngak tanggung-tanggung minimal 600. Terakhir tesku cuma 450 an, keningku berkerut saat melihat nilai iut. Terakhir aku dapat sms dari James minggu lalu nilai TOEFL nya sudah sampe 630. Aku terpukul dengan sms itu, aku tak mau kalah dari James. Aku harus berangkat ke Amerika tahun depan, pekikku dalam hati. 

Ω∑

Sejak perjanjian itu, aku juga telah memutuskan sebuah keputusan yang sangat bertentangan dengan diriku sendiri. Aku memutuskan aku tidak akan pacaran sampai aku wisuda dan mendapat beasiswa ke Amerika. Karena pacaran dapat memakan waktuku, sekaligus dapat menjadi hambatan untuk meraih mimpiku yang tinggi ini. James memang gila, sampai-sampai kehidupan percintaanku harus ikut menanggung kerasnya perjanjian ini. Padahal di harianku aku mempunyai sahabat, namanya Rasty. Dia teman sekelasku sangat manis sekali, kulitnya putih berkacamata. Rambutnya lurus sebahu, aku sangat suka sekali melihatnya tersenyum, seakan-akan ada bunga-bunga berterbangan di hatiku. Suara tawanya dapat membuat taman bungga yang kering dihatiku menjadi penuh dengan mawar yang harum.

Dari sikap Rasty saya juga tehu dia menyimpan rasa untukku, itu tampak dari sikapnya padaku. Dia sangat perhatian padaku, bahkan dia mau menyemputku dengan mobilnya setiap kami pergi ke kampus.

Hari ini, aku ada janji dengan Rasty, dia sedang menungguku di kantin kampus jam 10, kulihat jam tanganku telah menunjuk jam 10:30. Aku berjalan dari ruang pemimbingku cepat ke kafe itu. Keringatku bercucuran karena habis mempertahankan proposal dari pemimbing killerku. Tak sia-sia tidur cuma satu jam malam tadi, akhirnya tulisan acc pun terlukis dengan indah di sudut kanan atas di halaman pertama bab 2 ku, walaupun tulisan pemimbingku tak kalah seperti cakar ayam, namun tulisan acc itu adalah tulisan terindah di dunia yang pernah kuliaht. Saat pena bapak itu mengukir tulisan itu, rasanya akulah orang yang paling beruntung di dunia. Hatiku melompat-lompat menyambut kemenangan ini. Tiba-tiba hape di sakuku memikik, lalu ku lihat, ternyata dari Rasty. 

“dimana sih Rayn. Aku dah nunggu lama nihh. Jadi ngak bantu aku nyari buku?”

“ya jadilah..aku sedang lagi perjalanan ke sana, tunggu sekitar 3 menit lagi, aku baru dari pemimbingku nihh”

Lalu ku letakkan hapeku di saku kemejaku, akupun menambah kecepatan untuk berjalan menemui Rasty. Hari ini aku sudah berjanji dengannya untuk membantunya mencari buku tentang teori kepribadian prososial dan buku tentang sosiologi untuk bahan proposal yang sedang dia rancang. 

Ω∑

Hari ini adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidupku. Dengan pembelaan yang sengit dengan dosen- dosen egois, akhirnya Proposal penelitianku di terima. Aku keluar dengan wajah penuh senyum. Langsung ku kirim sms ke James di Jakarta.

“Proposalku telah di terima, amerika selangkah lagi”

Tampak lah di kursi di ujung lorong sana Rasty sedang menungguku sambil baca buku. Melihat aku keluar dari ruang sidang dia langsung berdiri dan berlari padaku.

“gimana… diterima gak porposalnya?”

Aku langsung menyerahkan proposalku padanya. Setelah melihat tulisan dengan tinta merah di sudut atas “diterima, bisa dilanjutkan ke penelitian”. Terbitlah senyum manis di wajahnya. 

“selamat yaa…” ujarnya senang.

“o iya,, kita ke kantin yuk..! aku traktir kamu hari ini” jawabku sambil senyum.

Dia membalas senyumku, hatiku berdebar-debar tak karuan. Kami pun berjalan ke kafe langganan kami. Setibanya di kafe, kami duduk di korsi yang paling ujung yang langsung berhadapan dengan sebuah kolam.

“gak taulah gimana dengan proposalku, kayaknya aku nyusul deh wisudanya” lirih Rasty, tampak sebuah kesedihan hinggap di wajah putihnya.

“mang data apa sih yang belum lengkap?”

“aku belum menemukan perbandingan teori tentang perkembangan kepribadian prososial di lingkungan ekonomi kelas atas dengan tingkat ekonomi kelas bawah, jadi aku belum bisa menentukan hipotesis penelitianku”

“biar ku bantu kamu selama tiga hari ke depan untuk mencarinya, kebetulan aku mulai membuat perbaikanku tiga hari lagi”

“benar ngak ganggu perbaikanmu?”

“bener, besok kutunggu jam 9 di sini ya.”

“terima kasih banyak Rayn. Kamu selalu baik padaku” senyum Rasty kembali terkembang. Aku melihat senyumnya yang terakhir ini menyimpan makna yang dalam untukku. Maaf Rasty, aku tak bisa mengungkapkan cinta padamu saat ini, nanti setelah wisudaku dan beasiswaku telah kudapatkan, aku berjanji aku akan menceritakan semua cinta ini padamu. Lirihku dalam hati.

∑Ω

Selama tiga hari kamipun berhasil menemukan teori-teori yang dibutuhkan oleh Rasty. Sehingga hipotesisnya penelitiannyapun dapat dirumuskannya dengan landasan yang kuat. Sekarang giliran Rasty mentraktirku di kafe langganan kami yang terletak di samping Fakultas. Dengan tempat duduk seperti biasa, kami bercerita panjang tentang suka duka ketika kami mencari teori yang di butuhkan Rasty.

“aku yakin dengan referensi sekuat ini, propsalmu akan diterima Rasty” kataku sambil senyum.

“terima kasih sekali lagi Rayn, kamu telah membantuku menyelesaikan proposalku, aku tidak tau bagaimana nasib proposalku bila tak ada kamu, coba saja kau selalu bisa bersamaku, pasti aku semua masalahku akan terasa telah terselesaikan” suara Rasty keluar dengan lembut dari mulutnya, tiba-tiba suasana berubah, aku tidak bisa berkata sepatahpun beberapa saat, senyumanku yang mulanya terkembang, sekarang kecut seperti bunga layu. Darahku naik terasa sekali. Wajahku tak berani menatap Rasty seperti biasanya. Rasty mamandangku sejenak.

“o iya.. aku harus bertemu dengan pemimbingku sekarang untuk mendiskusikan perbaikan proposalku kemaren” aku langsung mengalihkan pembicaraan dan langsung pergi. “aku pergi dulu ya, besok kita janjian lagi di sini, hari ini aku aja yang bayar” kataku sambil berdiri dan langsung menuju ke kasir untuk membayar. Terlihat wajah Rasty tampak kecewa duduk disana,

 Sambil berjalan aku memikirkan Rasty. Apakah aku telah menyakiti Rasty?. Maafkan aku Rasty, bukannya aku tidak cinta padamu, aku cuma belum siap. Seandainya kau tau bagaimana keadaanku saat ini, kau pasti mengerti mengapa aku melakukan semua ini padamu. Aku berharap kamu dapat bertahan sampai akhir semester depan, aku berjanji cintaku akan menyemputmu dengan sejuta keindahan. Perjanjian dengan James ini memang menyiksaku. Sial. Upatku dalam hati.

Ω∑

Setelah hari itu, Rasty jarang sekali mengirim sms padaku hanya sekedar bercanda. Biasanya hampir setiap malam kami sering smsan saling bercanda. Karena telah fokus pada penelitian skripsiku, aku juga jarang sekali ke kampus, hanya kalau ada hal-hal yang penting dengan pemimbingku baru aku mengunjungi kampus. Itupun hanya beberapa jam saja. Dengan keadaan ini, aku jarang sekali bertemu dengan Rasty lagi, aku bahkan tidak tau bagaimana perkembangan penelitiannya. Aku tak berani mengirim sms padanya, aku merasa bersalah telah menyakiti Rasty di kafe itu.

Tapi aku yakin Rasty adalah wanita yang tegar, dia pernah bercerita padaku, dia juga berminat sekali untuk bisa wisuda semester depan, dengan mengigat-ingat saat Rasty menderitakan itu padaku, aku yakin Rasty juga sedang mengejar wisuda di semester depan, mudah-mudahan kita bisa wisuda bersama Rasty, saat itulah aku akan menjelaskan semuanya padamu, lirihku dalam hati.

∑Ω

Malam ini aku masih menghitung-hitung data penelitanku yang baru saja kuselesaikan kemaren. Tiba-tiba hapeku berdering keras, aku terkejut sekali, pikiranku langsung teringat pada Rasty. Akhirnya Rasty juga megirim sms padaku, kataku dalam hati, 

Ketika sms ku buka, ternayata bukan Rasty, ternyata sms dari James.

“aku telah menerima beasiswa dari IMT California. Setelah wisuda nanti, aku langsung berangkat bersama tiga orang temanku. Aku harap bisa bertemu denganmu disana Rayn”

Sms membakar hatiku. James sainganku dari SMA dulu akhirnya telah lulus di MIT, aku tak mau kalah dengannya. Sejak saat itu aku selesaikan skripsiku dengan penuh semangat, juga aku mempersiapkan proposal penelitian tesisku untuk persiapan pendaftaran beasiswa nanti. Untuk TOEFL aku sengaja mengikuti pelatihan, karena aku tidak punya waktu lagi untuk belajar sendiri. Waktuku sangat sempit sekali. Aku hanya mempunyai waktu 2 jam untuk tidur demi mengejar targetku yaitu Amerika.

Tiga bulan setelah sms dari James, aku merasa telah mampu untuk mendapatkan nilai di atas 600 untuk TOEFL ku. Skripsiku semuanya juga telah selesai, tinggal menunggu koreksi dari pemimbing dua. Proposal tesisku juga telah kusiapkan sebagai salah satu syarat untuk mendaftar beasiswa Amerika. Tinggal TOEFL yang belum ku persiapkan. 

Hari ini aku coba mencari informasi tentang tes TOEFL tingkat nasional ini. Aku menemukannya dengan jawdal tiga hari lagi. Aku langsung mendaftar ke sekretariatnya langsung. 

Tak terasa tes TOEFL dilaksanakan hari ini, aku sengaja datang cepat datang. Duduk di paling depan, tak sengaja aku melihat ke arah samping kiriku, dua deret kesana, tampaklah Rasty duduk disana, wajahnya semakin cantik saja, saat melihat kea rah Rasty, ada suara detak tak beraturan di jantungku.

Setelah tes selesai aku beranikan diri untuk menemui Rasty.
“hai… kok bisa bertemu disini ya?”gledekku dari arah belakang.

Dengan terkejut saat memutar tubuhnya dan melihatku di belakangnya Rasty terkejut “ehh…Rayn!! Ikut tes juga ya, kok ngak ngasih kabar sih”

“hehehe…aku juga ngak tau Rasty juga ikut. O ya gimana skripsinya?”

“alhamdulillah, akhirnya beres juga”

“maaf ya aku ngak bisa bantu”

“ngak pa-pa, aku bisa sendiri kok, lagian aku ngak mau menganggu konsentrasimu lagi” suasana kembali terasa berubah, tapi sekarang Rasty langsung mengambil sikap.

“pulang bareng yuk.. dah lama nih ngak ntanter kamu pulang”

“hahahaha… tapi kita singgah di kafe makan siang dulu ya”

“boleh… boleh. Tapi kamu yang traktir ya…”

“aman…ayok.”

Kami langsung meluncur ke kafe langganan kami itu. Rasty sekarang sudah tampak berubah, ia menjaga ucapannya supaya tidak terbawa emosi. Mungkin dia pikir aku tidak suka padanya, ia menyangka bahwa posisinya hanya sebagai dekat kawan di mataku, padahal tidak, dia salah paham. Aku sangat mencintaimu Rasty.

Ω∑

Waktu akhirpun telah datang, pagi ini adalah hari diwisudanya kami oleh universitas. Terlihat Rasty dengan wajah di taburi warna-warna cerah semakin cantik saja yang duduk di kelompok cewek di depan sana.

 Tak terasa pemanggilan namaku datang. Aku berjalan di depan serasa akulah orang yang besar saat itu. Dengan membungkukkan kepala ke arah Dekan, akhirnya tali kuning yang ada di kiri togaku, telah dipindahkan ke kanan. Pada saat itu aku telah resmi menjadi Sarjana Psikologi. Aku tidak menyangka dengan kerja keras setiap hari, aku dapat menamatkan kuliahku empat tahun. 

Tidak hanya aku yang berbahagia, tampak di sana Rasty tak henti-hentinya megembangkan senyumannya sambil berfoto-foto bersama kawan-kawannya. Lain halnya denganku, aku masih terganggu dengan pengumuman penerimaan beasiswaku di Amerika, satu bulan yang lalu, aku telah mengirimkan berkas-berkasku ke lembaga yang memberikan beasiswa itu. Setiap hari aku menunggu panggilan sampai hari ini, aku belum juga di hubungi. Jangan-jangan aku ngak lulus lagi, seandainya aku ngak lulus, aku kalah telak di kompetisiku yang besar ini bersama James. Walaupun demikian, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu.

Sedang termenung di salah satu tempat duduk umum di tengah keramaian acara wisuda ini, aku dikagetkan dari belakang. Ada seseorang menepuk punggungku dari belakang.

“hei…kok benggong-benggong aja, foto yuk” suara Rasty sambil senyum-senyum padaku.

“iya..di situ aja” jawabku ke arah taman gedung di tengah sana.

Setelah berfoto-foto, dengan wajah yang penuh kecemasan, akupun pulang, rasanya sangat letih sekali. Ternyata wisuda itu juga melelahkan, sama saja seperti kegiatang MOS waktu masuk dulu.

Setelah di rumah aku langsung ke kamar, kubuka sepatu kulit hitam yang juga terlihat letih setelah menemaniku seharian. Aku merasa gerah sekali, aku ambil handuk merah yang tergantung dinding kamarku, sebelum melangkah ke kamar mandi, hapeku memkik di atas kasur sana. Langsung kulihat, ada nomor baru yang tak ada namanya sedang memanggilku. Siapa pula ini, ngak tau aku lagi capek, ganggu aja. lirihku dalam hati.

“halo, selamat sore, kami dari lembaga beasiswa, menyatakan anda diterima di salah satu universitas di Amerika, anda harus datang besok ke kantor kami untuk tes wawancara”

Setelah mendengar berita itu, aku langsung melompat-lompat di atas kasurku seperti anak kecil, sambil tertawa ngak karuan.

∑Ω

Akhirnya aku lulus di universitas Stanford jurusan Psikologi. Hatiku senang tak karuan. Dua hari sebelum keberangkatanku, aku baru ingat ada sebuah janji yang harus aku tepati pada Rasty. Aku harus menceritakan semuanya pada Rasty, sekarang kondisiku telah terbayar lunas, aku akan menceritakan sejuta cinta padanya. Dengan tidak sabar aku berangkat ke rumah Rasty.

“Rastynya sedang liburan ke Bandung rumah kakaknya selama seminggu Rayn” suara mama Rasty menjawabku. Bagaimana ini, apakah aku harus ke Badung dulu? Kayaknya ngak sempat. Bagaimana ini, aku dua hari lagi sudah berangkat dari Indonesia. Tidak ada pilihan lain aku mengasih catatan pada mamanya Rasty. 

“tolong titipkan catatan ini pada Rasty tante”

Akupun berjalan tertatih-tatih, aku menyesal sekali mengapa aku tidak terus terang aja sejak dulu bahwa aku juga mencintai Rasty. Aku berfikir apakah aku bisa bertemu lagi dengan Rasty saat kembali dari Amerika nanti. Air mataku tak terasa jatuh dari sudut mataku. Tapi gimana lagi, aku percaya cinta sejati pasti akan tumbuh pada saatnya nanti, aku cuma bisa berharap dari kata itu.

Ω∑

Akupun telah di atas pesawat terbang menuju Bangkok dari Bandara Soekarno Hatta, dari Bangkok nanti baru kami terabang ke Amerika. Di dalam pesawat, pikiranku tak tenang, aku berfikir tentang Rasty. Aku berharap kertas yang aku titipkan pada mamanya Resty. Mudah-mudahan Resty membacanya

Seharusnya cinta ini berbunga dari dulu
Ada sebuah kawat berduri yang menghalangi cinta kita
Sadarkah engkau…
orang yang akan selalu mencintaimu
sekarang sampai nanti itu adalah aku,

cintaku sangat besar untukmu
seandainya cinta itu berwarna ping
pasti ku ubah menjadi warna wajahmu
tunggu aku,, aku akan kembali
aku pasti kembali, itu hanya untukmu

Klik disini melihat profil penulis Rizal Kurniawan