Monday, 13 July 2015

Butuh Solusi, Pendidikan Berbasis Teknologi Masih Terhitung Lambat

JAKARTA, KOMPAS.com - Hadirnya teknologi terus mempengaruhi inovasi di bidang pendidikan. Teknologi membuat pendidikan lebih sistematis dan efisien. Sayangnya, di Indonesia pendidikan berbasis teknologi masih terhitung lambat.  

"Sistem pendidikan di sekolah kita dari zaman orang tua kita dulu dan sekarang tidak ada bedanya. Kita termasuk paling lambat meskipun teknologi semakin maju. Tantangan pendidikan global adalah program peningkatan kualitas pembelajaran seiring kemajuan teknolgi," ujar Indra Charismiadji, Presiden Direktur PT Eduspec Indonesia, dalam paparan sistem aplikasi belajar e-SABAK di Jakarta, Minggu (12/7/2015).

Indra mengatakan, infrastruktur pendidikan untuk mendukung pendidikan berbasis teknologi tidak siap. Di sisi lain, kualitas guru untuk mendukung penggunaan teknologi dalam pendidikan juga rendah, padahal alokasi anggaran terbesarnya adalah untuk membiayai guru.

Mirisnya, Indra mengatakan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menduduki peringkat keempat dari 10 kementerian/lembaga penguna dana terbesar APBN 2015. Selain menduduki peringkat keempat, Kemendikbud juga menduduki urutan ke-11 dalam daya serap anggaran dari total 88 kementerian/lembaga.

Penyebab Kemendikbud paling banyak mengunakan anggaran negara karena realisasi anggaran atau daya serap anggaran Kemendikbud untuk APBN 2015 saat ini sudah mencapai 33,92 persen. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional untuk daya serap anggaran kementerian/lembaga yang hanya 30,74 persen. Hingga saat ini, Kemendikbud yang memiliki pagu sebesar Rp46,8 triliun telah memakai anggaran sebesar Rp15,8 triliun.

Saat ini, sebagai salah satu inovasi sistem pembelajaran abad 21, pihaknya memperkenalkan e-Sabak atau Sistem Aplikasi Belajar Aktif dan Kreatif elektronik (SABAK). Program ini memanfaatkan teknologi sabak atau tablet elektronik. 

Ada tiga framework untuk menerapkan e-Sabak di Indonesia, yaitu menyiapkan infrastruktur, memperbaiki infostruktur, dan menerapkan infokultur. Yang terpenting menurut Indra adalah infokultur. 

"Iaitu bagaimana caranya mengubah kultur guru yang dulunya sebagai sumber informasi menjadi jembatan informasi. Zaman sekarang informasi bisa didapatkan di mana saja, tidak lagi hanya lewat guru," ujar Indra.

"Untuk infrastruktur pun masih bermasalah. Jangankan internet, listrik saja masih sering padam," tambahnya.

Lewat e-Sabak, pembelajaran dan pengajaran memungkinkan siswa meningkatkan kecanggihan aktivitas belajarnya secara online. Program ini juga akan mengubah sikap belajar siswa menjadi lebih baik dan antusias. 

"Yang terpenting di sini adalah memberi peluang bagi guru untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menciptakan suasana belajar yang baru, tidak lagi satu arah," katanya. 

Indra menambahkan, model yang diterapkan dalam sistem ini mencakup kunci penting untuk visi kepemimpinan dan kerja tim, selain juga pengembangan profesional untuk para pendidik, standar kurikulum, isi dan penilaian, informasi dan teknologi komunikasi dan sebagainya.  

Untuk menjalankan program ini, pihaknya menyediakan perangkat keras terdiri dari troli penyimpan tablet, perlengkapan siswa dan guru, proyektor, wireless display, router, headset serta  uninterruptable power supply atau UPS. Adapun perangkat lunak yang disediakan antara lain Intel Education Lab Camera, Intel Education Media Camera, SPARKvue, ArtRage, Fun With Construction, Kno, Foxit Reader, serta Insight dan Deep Freeze. 

"Kendala menjalan program ini pertama adalah anggaran. Apakah pemerintah mau menjalankan ini, mengingat angggaran untuk paket program ini Rp 1,2 miliar untuk satu sekolah," kata Indra.

Saat ini, baru tiga daerah bersiap menjalan program e-Sabak, yaitu Bali, NTB, dan Riau. Ia akui, program ini masih dinilai mahal, karena memang tak sekadar program saja. 

"Tapi membeli sistem, melatih guru untuk ramah dengan sistem ini, menyamakan kurikulum, dan sebagainya. Tak cukup setahun untuk pendampingan guru-guru," ujarnya.


sumber : http://edukasi.kompas.com/read/2015/07/13/16373401/Butuh.Solusi.Pendidikan.Berbasis.Teknologi.Masih.Terhitung.Lambat