Wednesday, 8 July 2015

Anak-anak Indonesia tidak diajari kemampuan untuk mengekpresikan pengalaman atau suasana hatinya

JAKARTA - Kecerdasan anak Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Buktinya, banyak siswa meraih prestasi di tingkat internasional. Tetapi, ada satu kelemahan anak-anak Indonesia.
Menurut Anggota Komisi X DPR RI, Teguh Juwarno, banyak anak Indonesia tidak bisa mengemukakan gagasan dengan baik. Sebenarnya, kunci solusi masalah tersebut adalah kemampuan berbahasa Indonesia. Sayangnya, hingga kini pengajaran bahasa Indonesia tidak mendorong siswa agar bisa mengembangkan daya kreasi mereka.
"Anak-anak Indonesia juga tidak diajari kemampuan untuk mengekpresikan pengalaman atau suasana hatinya," ujar Teguh dalam Diskusi Pendidikan di Kemendikbud, belum lama ini.
Dia mencontohkan, jika ditanya tentang suatu acara yang baru saja dihadiri, maka anak-anak Indonesia hanya bisa menjawab dengan satu kata, "Seru." Namun ketika ditanya mengenai maksud keseruan itu sendiri, dia tidak bisa menjabarkannya dengan rinci.
"Harusnya mereka bisa menjabarkan bahwa acaranya itu yang datang sekian ribu orang, semuanya perpakaian putih dan sorak-soraknya sampai memecahkan telinga. Tapi ketika ditanya, 'Seru itu apa?' Jawabannya, 'Ya gitu, deh,'" papar Teguh.
Berbeda halnya jika anak-anak bule yang ditanya. Mereka akan menjawab dan memaparkan semua.
"Ada masalah, yakni kita lemah dalam mengungkapkan gagasan. Mulai dari sekadar bertutur. Mereka tidak bisa menceritakan sesuatu," imbuhnya.
Selain bahasa, kata Teguh, masalah lain di forum-forum internasional adalah ketidakmampuan anak Indonesia mengajukan gagasan dan berdebat. Penyebabnya adalah kita tidak pernah dilatih untuk berdebat.
"Mungkin aspek-aspek itu yang harus lebih banyak kita munculkan," tambahnya.